Senam Guru Unesa Masuk Rekor MURI

21
Kepala BPPG UNESA, Dr. Fatkur Rahman Kafrawi, M.Pd. menerima plakat rekor MURI

2000 Guru se-Kota Surabaya Senam Pagi di Unesa

SURABAYA – Universitas Negeri Surabaya (UNESA) melalui Badan Pendidikan Profesi Guru (BPPG) meluncurkan Senam Guru Indonesia (SGI) di Lapangan Rektorat, Kampus 2 Lidah Wetan, Surabaya, pada Sabtu, 8 Juni 2024. Peluncuran tersebut ditandai dengan senam bersama yang diikuti sekitar 2.000 guru se-Kota Surabaya. 

Berkat inovasi dan gerakan Senam Guru Indonesia tersebut, Kampus Rumah Para Juara mencatatkan rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) sebagai universitas pertama yang menginisiasi senam guru.

“Senam guru kami luncurkan untuk mengembalikan tradisi senam kebugaran jasmani yang dulu pernah populer. Tujuannya adalah untuk meningkatkan aktivitas fisik dan kebugaran para guru dan masyarakat pada umumnya,” ujar Kepala BPPG UNESA, Dr. Fatkur Rahman Kafrawi, M.Pd. 

Dia menyebutkan, senam guru tersebut digagas berdasarkan kajian ilmiah yang menunjukkan rendahnya tingkat kebugaran fisik masyarakat Indonesia. 

Berdasarkan data, hanya sekitar 3.513 masyarakat Indonesia yang melakukan aktivitas kebugaran fisik. Padahal idealnya, salah satu faktor untuk membuat SDM Indonesia yang unggul adalah setidaknya ada 10.000 lebih masyarakat yang beraktivitas atau berolahraga. 

Dari kajian tersebut, imbuhnya, PPG UNESA sebagai pencetak calon guru yang diproyeksikan untuk pendidikan nasional ke depan harus mampu menginisiasi program efektif yang disarankan oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK). 

Luaran atau output dari program tersebut adalah launching Senam Guru Indonesia. Lebih lanjut pria yang akrab disapa Pak Fatkur itu menjelaskan bahwa MURI dan medali bukanlah target utama UNESA, tetapi perubahan mindset dari guru-guru di Indonesia agar lebih peduli dengan olahraga dan kebugaran fisiknya.

Baginya, gerak tubuh bukanlah kewajiban, melainkan kebutuhan yang nantinya menjadi investasi individu dalam rangka menunjang etos kerja dan mampu menjawab tantangan global.

Sehingga, jika seorang guru tidak memiliki badan yang bugar sewaktu mengajar, maka dikhawatirkan nantinya akan datang dengan emosi yang kurang stabil dan hal tersebut berpotensi mempengaruhi suasana proses pengajaran di dalam kelas. “Kalau gurunya bugar, kegiatan belajar mengajar di kelas akan berjalan lancar,” ungkapnya. 

Temu Ismail, S.Pd., M.Si., Sekretaris Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan yang hadir dalam kegiatan tersebut menyebutkan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk praktik yang cukup baik dan mampu menjadi contoh bagi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) lainnya.

Sebagai tindak lanjut, kegiatan ini nantinya akan diajukan ke Kemendikbud agar dapat diimplementasikan secara nasional dalam tahapan-tahapan tertentu. Ia percaya, jika implementasi ini berhasil, maka bukan hanya guru yang mendapat dampak positifnya, melainkan siswa juga ikut merasakan manfaatnya. 

“Selamat kepada UNESA yang telah menginisiasi dan membuat inovasi baru yang bukan saja bermanfaat bagi lembaga, tetapi juga guru dan masyarakat pada umumnya,” ucapnya.

Selain senam bersama dan pemecahan rekor MURI, kegiatan dalam rangka Dies Natalis ke-60 UNESA ini juga terdapat focus group discussion atau FGD, dan showcase atau pameran yang menampilkan berbagai inovasi mahasiswa dan dosen PPG UNESA. 

Kegiatan yang diikuti oleh lebih dari 2.000 peserta senam dan 30 pameran inovasi & entrepreneur tersebut, digelar dalam rangka Dies Natalis UNESA ke-60. Tampak hadir jajaran pimpinan dan civitas UNESA. (ega)

BAGIKAN