Hibah KONI Jatim Minim, Bambang Haryo : Sekda dan Kepala Bapedda harus Ada Perhatian

45
Bambang Haryo, Ketua Cabor Kodrat Jatim

SURABAYA –  Minimnya anggaran Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur (Jatim), untuk tahun 2023 mendapat sorotan dari stakeholder olahraga. 

Pasalnya, dengan keterbatasan anggaran KONI Jatim saat ini, program Puslatda proyeksi PON Aceh-Sumut tak akan berjalan optimal.

Ketua Pengprov Keluarga Tarung Derajat (Kodrat) Jatim, Bambang Haryo Soekartono, menilai anggaran Puslatda sebesar Rp55 miliar yang diterima KONI Jatim sangatlah minim.

“Jawa Timur itu provinsi besar dengan kota/kabupaten terbanyak di Indonesia, melebihi provinsi lain. Jumlah atletnya juga sangat banyak. Apalagi pada PON 2024 mendatang, ada tambahan puluhan cabor yang dipertandingkan dan dilombakan. Tentu dengan anggaran segitu tidaklah cukup,” ujar Bambang.

Sebagai perbandingan, Bambang menyebut KONI Kab. Bekasi saja mendapatkan kucuran dana sebsar Rp53 miliar, hanya selisih Rp2 miliar lebih sedikit dari KONI Jatim.

“Bukan hanya wilayahnya saja yang lebih kecil, secara prestasi KONI Kota Bekasi juga jauh di bawah KONI Jawa Timur. Tapi mereka bisa dapat anggaran sebesar itu,” kata Bambang yang juga Ketua IPSI Kota Surabaya tersebut.

Menurutnya, Pemprov Jatim khususnya Sekretaris Daerah (Sekda) dan Kepala Bappeda seharusnya bisa memberi perhatian lebih kepada olahraga di Jatim. Sebab, olahraga memiliki manfaat yang sangat besar bagi kemajuan sebuah daerah, yang output-nya akan membawa dampak positif bagi negara.

Peran Sekda dan Kepala Bappeda

Peran Sekda dam Kepala Bappeda Jatim memang cukup penting dalam menentukan besaran anggaran yang diberikan kepada KONI Jatim. Maklum, keduanya adalah pintu terakhir yang menentukan besaran dana hibah yang akan dikucurkan kepada KONI Jatim. Alurnya, KONI mengajukan Rencana Anggaran Belanja (RAB) untuk tahun 2023. 

RAB tersebut kemudian dibahas di Komisi E DPRD Jatim sebelum masuk ke Badan Anggaran (Banggar) DPRD Jatim. Setelah diajukan ke Banggar, Sekda dan Kepala Bappeda yang menentukan berapa besaran anggaran yang diberikan eksekutif kepada KONI Jatim.

Sebagai informasi, rencana anggaran belanja (RAB) yang diajukan KONI Jatim untuk Puslatda Jatim 100 proyeksi PON Aceh-Sumut sebesar Rp250 miliar. Dari besaran yang diajukan, Sekda dan Kepala Bappeda menyetujui hibah untuk KONI Jatim hanya sebesar Rp55 miliar. 

Angka ini jauh dari pengajuan KONI Jatim, sehingga memaksa induk organisasi olahraga di Jatim tersebut kelimpungan. Sebab, mereka harus mengubah seluruh skema Puslatda yang sudah disusun dengan sedetail mungkin pun kacau balau.

Akibatnya, KONI Jatim harus memangkas seluruh anggaran hampir di semua sektor. Puslatda pun dipastikan berlangsung minimalis. Pengadaan maupun keikutsertaan pada Kejurnas yang sebelumnya masuk dalam rancangan Puslatda pun ditiadakan. 

Mau tak mau, demi keberlangsungan persiapan atlet Jatim di PON 2024 mendatang, KONI Jatim harus tetap menjalankannya dengan segala keterbatasan. 

“Sekda dan Kepala Bappeda seharusnya tak serampangan dalam menentukan anggaran untuk KONI Jatim. Kalau olahraga di Jatim mau berprestasi, eksekutif seharusnya memberikan dukungan yang baik. Kalau anggarannya minimalis, bagaimana bisa maksimal. Itu mustahil,” kata Bambang Haryo.

“Di PON Papua kemarin, kita hanya kalah perak dari DKI Jakarta yang digelontor dana besar. Kalau saja pada persiapan terakhir sebelum keberangkatan ke Papua kucuran dananya mencukupi kebutuhan para atlet, saya yakin Jatim bisa bersaing dengan Jawa Barat yang saat itu jadi juara umum,” terang Bambang.    

Menurut Bambang, semua pemangku kepentingan harus memahami, bahwa olahraga merupakan salah satu cara untuk membuat masyarakatnya sehat dan tercapainya kemajuan sebuah negara. 

“Kesehatan merupakan aset terbesar bagi sumber daya manusia. SDM yang sehat adalah aset terbesar sebuah negara,” paparnya. 

Ia mencontohkan Amerika Serikat dan China bisa disebut sebagai negara maju karena memberikan perhatian besar pada sektor olahraga. Lewat prestasi para atletnya di kancah internasional, baik Olimpiade maupun kejuaraan dunia, kedua negara itu menjadi kekuatan besar di tingkat global. 

“Ini mengindikasikan bahwa olahraga menjadi salah satu komponen penting bagi kemajuan sebuah negara,” tutur Bambang.  

Hargai Pengorbanan Atlet

Maka itu, Bambang Haryo meminta Pemprov Jatim untuk lebih memperhatikan nasib olahraga di Jatim, khususnya para atlet yang siap mengorbankan jiwa raganya demi mengharumkan nama Jatim. 

“Para atlet ini berlatih keras untuk meraih prestasi di bawah panji-panji Jatim. Mereka sudah mengorbankan pendidikannya untuk berlatih dan bertanding, bahkan ada yang sampai cacat karena membela daerahnya. Mereka ini layak mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya,” papar Bambang Haryo. 

“Atlet ini kan sudah berkorban dan mempertaruhkan masa depannya. Minimal mereka butuh uang saku selama latihan dan bonus setelah meraih prestasi. Dengan itu saja, mereka sangat senang. Tapi kalau anggaran seminim itu, bisa dipastikan akan sangat memengaruhi psikis atlet,” imbuhnya.

Bambang pun mempertanyakan minimnya anggaran, yang dikucurkan kepada KONI Jatim karena lebih mengutamakan sektor-sektor yang lebih bermanfaat untuk kemaslahatan umat.

“Umat yang mana? Olahraga itu untuk kemaslahatan umat. Karena untuk sehat jasmani itu butuh makanan bergizi dan olahraga. Dengan olahraga, manusia akan sehat jasmani dan rohani. Hal itu bisa dibuktikan bahwa dengan rajin berolahraga, manusia bisa terhindar dari pengaruh negatif seperti narkoba dan lainnya,” ujar Bambang Haryo. 

Apa yang dikatakan Bambang benar adanya. Hal itu bisa dilihat dari tes narkoba yang dilakukan secara berkala oleh BNN Provinsi Jatim kepada seluruh atlet Puslatda Jatim di tahun 2021 lalu. Hasilnya, tak satu pun atlet Jatim yang positif narkoba. (ega)

BAGIKAN