Filosofi Tari Boran di Pembukaan Porprov VI

18

LAMONGAN – Salah satu pertunjukan spektakuler yang akan disuguhkan saat pembukaan Porprov ke VI di Stadion Surajaya Lamongan adalah tari Boran Massal, Sabtu (6/7/2019) malam.

Sebanyak 1.500 penari akan menutup semua permukaan rumput Stadion Surajaya.

Tari Boran merupakan tari kreasi baru yang diciptakan pada tahun 2006 oleh seniman Lamongan, Ninin Desinta, Tri Kristiani, Purnomo dan Saryono.

“Tari Boran ini menggambarkan sisi kehidupan para penjual Nasi Boran di Lamongan dalam menjajakan dagangannya dan berinteraksi dengan para pembeli,” kata Kepala Disparbud Lamongan, Ismunawan.

Tari Boran pertama kali diperkenalkan pada 2006 dan menjadi juara umum tingkat provinsi Jatim dalam ajang Festival Karya Tari Jatim.

“Cukup membanggakan, pada tahun 2007, Tari Boran ini menjadi juara umum nasional Parade Tari Nusantara di Jakarta,” kata Ismumawan.

Tarian tradisional dari Lamongan yang sangat terkenal ini menjadi salah satu tarian khas yang gerak dasarnya terinspirasi dari para penjual nasi boran, makanan khas yang hanya ada di Lamongan.

Salah satu properti Tari Boran adalah Boran atau periuk nasi yang terbuat dari anyaman bambu.

Para penjual nasi boran menjajakan dagangannya dengan cara menggunakan Boran atau wadah nasi yang terbuat dari bambu dan ditaruh diatas kepala mereka untuk membawanya.

Untuk menjajakan Nasi Boran ini, mereka berjalan kaki dan menawarkan dagangannya ke setiap orang yang mereka dijumpainya.

“Perjuangan mereka itulah yang menginspirasi para seniman di Lamongan untuk menciptakan Tari Boran ini,” ungkapnya.

Keindahan Tari Boran yang biasanya dipertunjukkan secara berkelompok ini, pada setiap gerakannya menggambarkan aktivitas para penjual nasi boran mulai dari menyiapkan makanan sampai menjual naso Boran ke pelanggan.

“Ritme gerakan pada tarian ini kadang lambat dan kadang menjadi cepat sesuai dengan jalan cerita yang ditampilkan. Targetnya adalah agar pesan dan makna pada tari ini bisa tersampaikan dan dipahami dengan mudah oleh masyarakat. Kostum yang dikenakan pada Tari Boran ini, menggunakan busana tradisional berupa baju kemben lengan panjang dan celana sepanjang bawah lutut dengan warna yang sama seperti kebaya dan kain batik khas Lamongan pada bagian pinggang menutupi celana. Tari Boran menjadi salah satu tarian khas dan kebanggaan dari Lamongan,” katanya.

Tarian ini kini masih terus dilestarikan dan dijaga keberadaannya.(tim)

BAGIKAN