Hoiriyah Besar Karena Bakat Alam

6

Surabaya – Hoiriyah memang terlahir sebagai peselancar angin. Bakatnya menitis langsung dari sang ayah (Hoiri) yang dikenal jago dalam lomba-lomba layar tradisional skala lokal Surabaya. Tak heran, meski baru menggeluti selancar sesaat setelah lulus sekolah dasar, Hoiriyah tak butuh waktu lama untuk mencetak prestasi.

Betapa tidak, hanya selang beberapa bulan setelah wanita asli Kenjeran Surabaya ini menggeluti olahraga yang satu ini, Hoiriyah langsung menunjukkan bakat besarnya. Hal itu bisa dilihat dari medali perunggu di kelas Mistral yang ia raih di Kejurnas Ambon pada 2006 lalu. Padahal, Hoiriyah saat itu baru sekali turun di even sebesar itu.

Hebatnya lagi, di peringkat ketiga ia dapatkan bukan hanya dari lawan-lawan sesama jenis (putri), tapi juga para selancar putra. Benar saja, karena di Kejurnas ini Hoiriyah juga bertarung lawan atlet-atlet daerah lain, baik putra maupun putri.

“Dari situlah para pelatih selancar angin Jatim yakin, Hoiriyah bukan kebetulan semata, tapi memang bertalenta,” ujar Bambang, pelatih selancar angin Jatim yang mendampingi Hoiriyah saat wawancara dengan majalah Rekor di markas mereka, Senin (14/3/2016) di Pantai Kenjeran Lama.

Dalam waktu singkat, bakat alam yang dimilikinya membuat karier Hoiriyah semakin melejit. Buktinya, hanya berselang setahun kemudian, penghobi sepak bola ini sukses merebut medali emas di Pra PON Kaltim 2007 dengan mengalahkan langganan juara saat itu, Yuni Trisnawati asal DKI Jakarta.

Ia bisa disebut memiliki bakat alam, karena Hoiriyah sangat cepat beradaptasi dan mempelajari olahraga yang membutuhkan keahlian khusus ini. Maklum, tanpa perlu belajar lama, Hoiriyah sudah bisa membaca arah angin, kecepatan angin, dan gelombang laut.

“Ayah saya berperan besar, karena saya belajar banyak tentang semua itu dari ayah. Pelatih saya pertama juga, Pak Yusuf Faisal,” ujar peselancar angin Pelatnas ini.

Setelah Pra PON 2007 itu, Hoiriyah termasuk salah satu atlet andalan Jatim yang memiliki performa konsisten. Sebab, sejak saat itu ia selalu menyumbangkan emas bagi Jatim di even sekelas Pekan Olahraga Nasional. Ia bahkan tak tertandingi oleh lawan-lawannya.

Hal itu terbukti dalam banyak kejuaraan skala nasional yang ia ikuti, Hoiriyah selalu memastikan juara tanpa harus menuntaskan seluruh race yang dilombakan. Fakta itu bisa dilihat ketika Hoiriyah dipastikan menggenggam gelar juara di PON Riau lalu. Kala itu, wanita lajang yang sempat mengecap pendidikan di jurusan manajemen Universitas Dr. Soetomo, Surabaya, itu hanya butuh 10 race dari total 12 race yang harus ditempuh lantaran poin Hoiriyah sudah tak terkejar oleh para pesaingnya.

“Sudah berkali-kali Hoiriyah melakukannya. Ini bukti, dia sudah tidak bisa dilawan oleh peselancar angin lainnya, khususnya di Indonesia,” ujar Bambang.

Prestasi tertinggi yang ia torehkan di pentas internasional sendiri terjadi ketika ia sukses menjuarai SEA Games 2011 di Jakarta lalu. Sayang pada SEAG 2015 Singapura, Hoiriyah gagal mengulang sukses karena hanya mendapat medali perunggu.

Hanya saja, kegagalan itu melecut Hoiriyah untuk berlatih lebih keras. Hasilnya, di tahun yang sama atlet yang sempat bimbang menentukan pilihan antara berkarier di selancar angin atau sepak bola itu, sukses meraih peringkat kedua di Kejuaraan Dunia 2015 di Malaysia.

Tak Heran, para peserta polling yang terdiri dari wartawan olahraga seluruh Jatim serta panitia tak kesulitan menentukan sang atlet terpilih sebagai atlet putrid terbaik versi Seksi Wartawan Olahraga Jatim.

Melalui pengabdian serta seabrek prestasi di Jatim seharusnya ia tak hanya sekadar diapresiasi dengan anugerah semacam ini, namun juga perhatian dari pemerintah daerah maupun pusat. Maklum, sang atlet peselancar andalan Jatim dan Indonesia ini sampai sekarang masih mencemaskan nasibnya karena tak tahu apa yang ia lakukan usai pension nanti.

Maklum, banyak rekan-rekannya sesama atlet, bahkan saat masih menjadi atlet tak memiliki prestasi secemerlang dirinya saat ini sudah berstatus pegawai negeri, karyawan perusahaan besar, atau mendapatkan pekerjaan yang layak dari pemerintah daerahnya atau perusahaan swasta.

“Siapa pun ingin jadi pegawai negeri atau karyawan perusahaan besar. Karena bagaimana pun, saya tak selamanya menjadi atlet. Lantas bagaimana nasib keluarga saya kalau saya pension dari atlet nanti?” tanya Hoiriyah.(riz)

Profil Atlet Selancar Angin “Hoiriyah”

Nama: Hoiriyah
Lahir: Surabaya, 10 Agustus 1991
Postur: 156 cm/53 kg
Hobi: Sepak Bola/Futsal
Orang Tua: Hoiri (ayah)/Side (ibu)
Anak ke: 3 dari 4 bersaudara
Klub Camar:
Karier Atlet:
2005….sampai sekarang
Prestasi:
2006 Kejurnas Ambon Kelas Mistral (pa/pi)-Perunggu
2007 Pra PON Kelas Mistral Putri -Emas
2008 PON Kaltim Kelas Mistral Putri –Emas
2011 SEA Games Jakarta-Emas
2012 PON Riau Kelas RSX Putri-Emas
2015 SEA Games Singapura Perunggu
2015 Kejuaraan Dunia (pa/pi) Peringkat 2

BAGIKAN