KONI Beri Tali Asih untuk 5 Legenda Jatim

KONI Jawa Timur (Jatim) kembali memberikan tali asih kepada mantan atlet yang pernah berprestasi dan mengharumkan nama Jawa Timur dan Indonesia. Dari lima orang penerima talia sih tahap kedua, tiga di antaranya adalah mantan pemain sepak bola.

“Kenapa sepak bola? karena sumbangsih cabang olahraga sepak bola memang banyak untuk Jawa Timur maupun tim nasional Indonesia,” bilang Ketua Harian KONI Jatim M Nabil.

Program tali asih yang dijalankan oleh KONI Jatim ini adalah amanat dari Gubernur Khofifah Indar Parawansa. Dalam beberapa kali kesempatan, orang nomor satu di Jatim ini selalu mengingatkan KONI untuk tidak melupakan jasa mantan atlet yang pernah mengharumkan nama Jatim dan Indonesia.

WhatsApp Image 2020-06-25 at 11.31.51

Kamis (25/6) ini KONI Jatim memberikan tali asih kepada lima mantan atlet. Kelima sosok tersebut adalah Budi Santoso (sepak bola), Tutut Nugroho (tenis lapangan), Yopie Saununu (sepak bola), Abdul Khamid (sepak bola), dan Suyitno (balap sepeda).

“Kita harus selalu mengingat bahwa mereka telah memberikan sejarah terbaik dan mengorbankan semuanya untuk Jawa Timur dan Indonesia. Oleh sebab itu kita harus mengapresiasi agar mereka tidak merasa terbuang dan terlupakan,” jelas Nabil.

“Jangan sampai kita termasuk mengdzalimi atlet. Mereka dimanfaatkan pada saat berjaya, dan melepas begitu saja pada saat mereka selesai menjadi atlet,” imbuh Direktur Puslatda Jatim tersebut.

Nabil mengamini bahwa program tali asih terinspirasi dari Gubernur Khofifah. Nabil mengatakan, gubernur berulang kali mengingatkan akan nasib mantan-mantan atlet dan mantan pesepak bola Jawa Timur yang di tim nasional.

“Perhatian beliau terhadap olahraga sangat luar biasa. Sesuai dengan apa yang diinginkan Gubernur dengan memberikan tali asih ini, semoga bisa memberi manfaat kepada mereka,” harap Nabil.(tim)

Profil Singkat Penerima Tali Asih KONI Jatim:

1. Budi Santoso (sepak bola)
Budi Santoso lahir di Surabaya pada 1948. Bermain sebagai right mildfielder, Budi Santoso menjadi andalan timnas Indonesia era 1970-an yang kala itu sangat disegani di Asia.

Budi Santoso menjadi andalan Green Force Persebaya sepanjang 1969 – 1978. Budi Santoso ikut membawa Persebaya menjadi juara nasional kompetisi Perserikatan pada 1977.

2. Tutut Nugroho (tenis lapangan)
Lahir Jombang 13 Oktober 1958. Dia pernah menempati peringkat 1 Jatim pada era 80-an terpilih memperkuat tim nasional ke SEA Games XII tahun 1983 di Singapura. Hasilnya bersama Suzanna Anggarkusuma, Conny Maramis, dan Sri Utami Ningsih, Tutut Nugroho membawa Indonesia meraih medali emas beregu putri.

Setelah itu Tutut malang melintang di dunia tenis Indonesia dan mengikuti berbagai turnamen di luar negeri. Kemudian pada PON 1985 meraih medali perunggu di nomor ganda campuran bersama Luki Tedjamukti.

3. Yopie Saununu (sepak bola)
Yopie Saununu yang lahir pada 1955, adalah pemain timnas sepak bola era 1970-an. Yopie ikut memperkuat Persebaya Surabaya di era 70-an.

Yopie pernah membela Timnas Indonesia di beberapa ajang event internasional sepertu Kejuaraan Pelajar di Manila, Filipina (1974), Turnamen Kings Cup, Bangkok, Thailand (1975), Merdeka Games, Kuala Lumpur, Malaysia (1976), SEA Games, Kualalumpur, Malaysia (1977).

4. Abdul Khamid (sepak bola)
Libero timnas sepak bola Indonesia era 1980-1985 ini adalah termasuk dalam skuad PSSI Garuda 1.
Tim Indonesia Garuda 1 adalah embrio dari tim nasional yang menjalani latihan di luar negeri.

Lahir di Bangil 15 Mei 1965, Khamid adalah pemain yang mengantar Niac Mitra menjadi juara Galatama sebanyak tiga kali. Khamid menjadi bagian dari timnas Indonesia atau Garuda 1 yang dikirim ke Brazil untuk berlatih di negeri Samba itu.

5. Suyitno (balap sepeda)
Pembalap sepeda kelahiran Surabaya 7 Agustus 1977 ini dikenal sebagai Raja Pedal pada era awal tahun 2000.

Bermula menjadi juara di Kapolwil Surabaya Cup 1997, Suyitno masuk Puslatda untuk persiapan PON XV/2000 di Jawa Timur. Tidak sia-sia menjalani Puslatda, Suyitno menyumbang tiga emas di PON 2000 di nomor Individual Pursuit 4000 M, Team Pursuit 4000 M, dan Team Open Road Race.

Tiga emas PON ini membawanya masuk Pelatnas. Berlaga di kancah internasional Suyitno menjadi juara stage di Tour de Langkawi Malaysia tahun 2000, dan juara kedua kejuaraan balap sepeda Jelajah Malaysia 2000.

Prestasi ini membawanya masuk Pelatnas persiapan SEA Games XXI/2001 di Kuala Lumpur, Malaysia. Dan hasilnya tidak mengecewakan karena Suyitno menyumbang dua medali emas untuk kontingen Indonesia di nomor Team Pursuit 4000 M, dan nomor Track Madison.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*