PON Sebagai Pemersatu Bangsa

SURABAYA – Rapat Kerja Nasional Seksi Wartawan Olahraga Persatuan Wartawan Indonesia (Rakernas SIWO PWI) yang digelar di salah satu hotel di pusat kota Surabaya, Kamis (7/2), dibuka dengan agenda diskusi tentang Pekan Olahraga Nasional (PON).

Output multieven empat tahunan yang diharapkan jadi ajang pemersatu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dihadapkan pada pencapaian prestasi di dunia internasional.

Sejak PON untuk pertama kali digelar di luar DKI Jakarta pada edisi tahun 2000, terhitung sudah 4 provinsi yang menjadi tuan rumah. Pada PON XXI 2020, Provinsi Papua yang memperoleh giliran selanjutnya.

Semangat menjadikan even ini sebagai ajang pemersatu NKRI memang lebih menonjol dengan mengesampingkan kendala-kendala teknis yang bakal terjadi. Termasuk kekhawatiran akan kesiapan sarana dan prasarana di Bumi Cendrewasih dalam menerima ribuan peserta dari 33 provinsi se-Indonesia.

“PON dalam sistem bangunan olahraga nasional posisinya di mana? Berapa prestasi yang dihasilkan dari PON termasuk catatan-catatan pemecah rekor apakah seiring dengan prestasi olahraga di level internasional? Ini yang saya harap bisa kita pikirkan bersama dengan semua elemen. Baik dari KONI sebagai penyelenggara PON sesuai undang-undang, Menpora, Menristekdikti maupun Kemendikbud dan media massa sebagai pemberi informasi kepada khalayak,” terang Dr Irmantara Subagio sebagai narasumber akademisi dalam diskusi di rakernas SIWO PWI.

Pembahasan PON memang jadi topik utama setelah narasumber pertama Ketua Umum KONI Sumatera Barat (Sumbar) Syaiful, mencuatkan kekhawatiran yang tengah melanda daerah-daerah dalam persiapan menuju PON 2020.

Selain kesiapan infrastruktur, keamanan dan mahalnya biaya yang ditanggung kontingen, khususnya dari Sumatera, membuat KONI Sumbar memikirkan wacana hanya mengirim atlet peraih medali.

Wacana ini yang menurut Ibag, panggilan Irmantara Subagio perlu dikaji ulang. Sebab, PON merupakan jalan bagi Indonesia untuk meraih prestasi internasional. “Tidak ada arena lain yang bisa membangun prestasi anak bangsa di bidang olahraga secara nasional selain PON. Adanya kekhawatiran-kekhawatiran itu seharusnya bisa dijawab oleh pemerintah. Semisal mahalnya biaya yang ditanggung kontingen. Disinilah pemerintah bisa berperan lebih besar dengan memberi subsidi,” bebernya.

Bagaimanapun juga, PON merupakan salah satu media untuk mengikat dan pertahankan persatuan dan kesatuan NKRI. Olahraga disebut Ibag menjadi instrumen penting dalam membangun kejayaan dan kebanggan bangsa Indonesia di dunia internasional.(tim)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*