Bangkit di PON Jabar

Surabaya – Nama Riau Ega Agatha Salsabila sempat mengejutkan arena Olimpiade Rio 2016. Kejutan itu dilakukan berkat prestasinya mengalahkan favorit juara dari Korea Selatan, Kim Woo-jin dengan skor mutlak 6-2. Kendati sukses itu harus berakhir saat menghadapi atlet panahan Italia Mauro Nespali, tapi prestasi menaklukan Woo-jin sebagai pemananh terbaik dunia itu membuat nama lajang kelahiran Blitar ini menjadi bahan pembicaraan di peta nasional, bahkan dia menjadi salah satu atlet unggulan di nomor recurve PON XIX/2016.
Sukses atlet panahan Jatim Riau Ega Agatha Salsabila meraih medali emas Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX/2016, sejak awal sudah diyakini pelatih nasional Denny Trisyanto yang juga menangani Puslatda Jatim 100/III cabor panahan. Dasar keyakinan pendekar silat Perisai Diri itu tak hanya prestasi Ega dalam Olimpiade Rio 2016, yang sukses mengalahkan pemanah terbaik dunia asal Korsel Kim Woo-jin dengan skor telak 6-2. Sebaliknya berdasar peningkatan kualitas skill dan tekniknya saat mengikuti Puslatda.
Karena itu, Denny Trisyanto sejak awal berani memastikan, bahwa Ega akan menjadi salah satu pemanah Jatim yang akan menyumbangkan medali emas untuk Kontingen Jatim. Medali emas yang disumbangkan sebanyak nomor recurve yang diikuti atlet kelahiran Blitar itu, tapi yang diandalkan dari nomor Recurve perorangan putra dan Recurve beregu putra. Namun, bukan kemuskilan medali emas kembali disumbangkan dari nomor Recurve beregu campuran.
Prediksi yang disampaikan suami pelatih nasional Lilis Handayani itu, terbukti di arena PON 2016. Penampilan Ega menghasilkan 2 medali emas dan 1 perak. Medali emas direbut dari nomor Recurve perorangan putra, sementara bersama Irvaldi Putera dan Rahmat Panjianji menghasilkan emas nomor Recurve beregu putra. Medali peraknya dicuri dari nomor Recurve beregu campuran berpasangan dengan Diananda Choirunisa.
Dalam merebut medali emas di babak final nomor Recurve perorangan putra yang berlangsung di Stadion si Jalak Harupat, Soreang, Bandung, Rabu (21/9/2016), Ega bertarung lawan pemanah Aceh, Dhia Rahmat. Dalam pertempuran sengit itu, Ega menang telak 6-0 (27-21, 27-26, 26-23). Sementara medali perunggu direbut atlet D.I. Yogyakarta, Rahmat Sulistyawan.
Prestasi itu menjadi medali emas PON kedua bagi Ega, setelah merebut medali emas di nomor sama pada PON XVII/2008 di Kalimantan Timur. Untuk meraih emas, pemanah berusia 24 tahun itu mengakui, tantangan terberat tampil terbaik di PON Jabar adalah dirinya sendiri. Ini karena posisinya yang ditargetkan sebagai perebut emas. Selain itu, posisinya di peta persaingan yang mengempati posisi unggulan.
“Olimpiade kemarin jadi pelajaran bagi saya, bahwa musuh berat seorang atlet panahan adalah dirinya sendiri. Prestasi dalam PON Jabar ini menjadi bukti, bahwa saya masih memiliki kesempatan untuk berkembang lebih baik dibanding penampilan sebelumnya,” kata Ega usai pengalungan medali.
Saat tampil di nomor Recurve beregu putra, trio Jatim yang terdiri dari Riau Ega Agatha, Irvaldi Ananda Putera dan Rahmat Panjiaji masih terlalu tangguh bagi tim Kalimantan Tengah. Keunggulan itu dibuktikan dengan kemenangan telak 6-2 tim Jatim dengan skor 46-49, 54-50, 53-49, 53-50.

Atlet panahan Jatim, Riau Ega Agatha Salsabila merupakan salah satu pemanah yang mewakili Indonesia di Olimpiade 2016 lalu. Saat itu, Riau Ega mengejutkan dunia usai menyingkirkan pemanah peringkat satu dunia asal Korea Selatan, Kim Woo-jin. Keduanya bertemu di babak penyisihan setelah sebelumnya berhasil menyingkirkan wakil Tiongkok, Xing Yu. Sayang langkah Ega terhenti di babak 16 besar, setelah kalah dari pemanah Italia, Nespali, 0-6 (25-29, 27-29, 26-27).
“Saya sedih itu, waktu kalah dari pemanah Italia. Saya diam, pelatih juga diam saja. Tapi, habis itu saya dikasih waktu dua hari untuk berduka. Setelah itu, saya diminta persiapan fokus ke PON Jabar,” kata Riau Ega.
OLIMPIADE KENANGAN
Menekuni karier olahraga di cabor panahan, tak pernah menjadi impian Riau Ega Agatha Salsabila. Itu tercermin dari hobi olahraga pria kelahiran Blitar pada 25 November 1991 ini. Saat kecil justru menekuni sepakbola dan rajin berlatih renang. Ia mulai mengenal olahraga panahan saat usianya menginjak 10 tahun tepatnya saat duduk di kelas IV sekola dasar.
Ia semakin menekuni panahan saat pindah ke Surabaya dan berlatih kepada Denny Trisyanto, yang dikenal giat membina panahan Surabaya dan Jatim. Semuanya bermula saat di awal SMP, ia mengikuti Kejurda dan berhasil meraih 4 medali emas. Ia kemudian mendapat panggilan dari PPLP Surabaya yang saat itu dilatih Denny Trisyanto, yang membuatnya harus pindah dari SMPN 1 Blitar ke SMPN 35 Surabaya di Rungkut.
Pada tahun 2006, Riau Ega mulai mengikuti kejuaraan internasional. Selanjutnya pada 2007 mengikuti Asian Youth Championship di Taiwan, masih dengan biaya sendiri. Awalnya sempat ingin mundur, tetapi berkat dukungan sang ibu, Ega menjajal kemampuannya di kejuaraan tersebut.
Prestasi pertamanya pun akhirnya diraih pada tahun 2008 saat berlaga dalam Asian Grand Prix di Filipina. Saat itu Ega berhasil meraih peringkat ketiga. Selain itu, penerima penghargaan SIWO Award pada Maret 2016 ini pernah mendapatkan 1 emas, 3 perak dan 1 perunggu di Kejuaraan ATM Malaysia Terbuka.
Dalam Sea Games 2015 Singapura, Ega berhasil meraih emas nomor recurve campuran bersama Ika Yiliana Rochmati dan meraih perak di nomor beregu recurve putra bersama Muhammad Wijaya. Pada tahun yang sama, alumni SMAN 17 Surabaya ini meraih medali perunggu diajang Piala Dunia Panahan di Shanghai China. Medali perunggu terebut diraihnya pada nomor individu recruve.
Sedangkan Olimpiade Rio 2016 merupakan olimpiade pertama yang diikuti Ega. Dia lolos ke pesta olahraga dunia di ibukota Brasil itu, setelah menembus final secondary qualification untuk tiket menuju Olimpiade 2016. Dalam kejuaraan ini mahasiswa jurusan Manajemen Universitas Narotama (UNNAR) ini meraih medali perak.
Setelah beristirahat usai tampil di Olimpiade Rio, Riau Ega mulai berlatih giat lagi untuk tampil di PON 2016 Jawa Barat bersama kontingen Jawa Timur. Usahanya bangkit dari kekalahan menyakitkan di Olimpiade Rio membuahkan hasil. Medali emas PON Jabar ia persembahkan untuk Jatim dari nomor recurve perorangan putra dan recurve beregu putra. Dia juga tidak mempermasalahkan turunnya level bertanding dari Olimpiade ke PON.
“Saya bisa masuk pelatnas kan juga karena Jawa Timur. Saya dikirim untuk seleknas juga karena kepercayaan Jawa Timur, dan bisa dapat tiket ke Olimpiade. Jawa Timur berjasa juga membuat saya bisa tampil di Olimpiade dan bisa memberikan yang terbaik untuk Indonesia dan Jawa Timur,” kata Ega.
Seolah ingin balas dendam atas kegagalan di Olimpiade Rio, Ega menargetkan merebut semua emas PON Jabar di nomor yang dia ambil bagian. Di PON Jabar, dia turun di tiga nomor, recurve individual putra, recurve beregu putra, dan recurve beregu mix.
Bagi ‘Robin Hood’ dari Jatim ini, sekarang dia berada pada titik awal untuk dapat berprestasi lagi. Hal itu dimulai dari tampil di PON Jabar. Target tertinggi Ega adalah berkiprah lagi di Olimpiade 2020 Tokyo demi menyumbangkan medali bagi Merah Putih.
Selama berkarier di dunia olahraga panahan, bagi Ega, hal yang terberat adalah saat-saat menjalani latihan. Ketika tampil di pertandingan, dia lebih rileks dan menikmati momen-momen melepaskan busur panah ke sasaran.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*